Minggu, 30 Juni 2013

"Keluarga Dakwah"




“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya (sakinah), dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
(QS Ar Rum ayat 21)


Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang anggota keluarga.
Dakwah adalah menyeru manusia kepada Allah. Yang dimaksud menyeru kepada Allah adalah menyeru manusia kepada agama Allah, kepada al-Islam. Al-Islam yang dimaksud adalah yang dibawa oleh Muhammad SAW.
Yang dimaksud keluarga dakwah adalah sebuah keluarga yang telah memenuhi kebutuhan pokok minimum bagi seisi keluarga tersebut, sehingga dapat dijadikan teladan atau mengajak keluarga lain kepada Allah.
Karena berkeluarga bukan hanya sekedar membentuk keluarga saja, namun motivasi berkeluarga harus dilandasi dengan motivasi untuk beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri, dan merealisasikan amal bahwa berkeluarga adalah bagian dari sebuah gerakan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi.
Sesungguhnya pusat perhatian dalam keluarga adalah untuk meningkatkan kualitas ruhiyah, fikriyah, nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah, dan sosialisasi setiap anggota keluarganya.
Dengan memenuhi karakteristik keluarga berikut:
1. Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
2. Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma Islam.
3. Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti fikrah islami.
4. Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah, dalam bentuk dan skala apapun.
5. Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah tangga.
6. Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
7. Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-anak).
Dengan begitu maka akan dapat membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah (samara). Pun akan melahirkan pribadi islami untuk yang siap melanjutkan perjuangan Islam.

Dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Seperti yang dijelaskan dalam ayat berikut...
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim [66]: 6).”

Selain menjaga diri kita dan keluarga api neraka, kita pun diperintahkan untuk menyerukan kebaikan kepada orang lain.
Syaikh Musththafa Masyhur dalam kitabnya Fiqh Dakwah disebutkan bahwa rumah tangga muslim yang sejati sepatutnya menjadi pusat dakwah Islam.


Setiap anggota keluarga yang aqil baliqh wajib menjadi juru dakwah, pendukung dakwah dan penyeru orang-orang sekelilingnya ke jalan Allah, dengan penuh kesabaran, hikmah dan nasehat baik sehingga mampu kontribusi yang cukup bagi perbaikan masyarakat sekitarnya.

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. An-Nahl ayat 125)

Namun semua itu harus dapat diatur dengan baik. Harus ada pembagian yang seimbang antara ibadah kepada Allah (ibadah ritual), keluarga (mendidik keluarga serta bercengkrama bersama istri dan anak-anak), dakwah yang diemban (mengisi ceramah, mendatangi pengajian, menjadi pengurus masjid, panitia kegiatan keislaman), dan waktu mencari nafkah.
Untuk itu, jika ingin membangun keluarga dakwah, setidaknya ada tiga pilar penting yang harus tegak dalam sebuah rumah tangga.
1.Pilar ibadah
Keluarga kita harus menjadi teladan dalam hal ibadah. Karena, beribadah yang benar dan istiqamah akan menjadi kekuatan utama para dai dan mujahid dalam menjalankan misi dakwahnya.
Esensi dakwah yang hendak ditegakkan adalah menjadi teladan bagi orang lain untuk beribadah dengan benar kepada Allah yang sesuai tuntunan sunah-sunah Rasulullah SAW. Bermula dari shalat lima waktu secara berjamaah di masjid bagi anggota keluarga pria adalah wajib, tepat waktu menunaikan zakat, bergaya hidup infak fi sabilillah seperti, sedekah, wakaf, dan jihad harta (al-jihad bi al-mal). Selain itu, menghidupkan puasa sunah selain yang wajib kepada seisi keluarga, membudayakan zikir, doa, dan tilawah sebagai hiburan utama anggota keluarga
2. Pilar ilmu
Ibadah dan dakwah harus dengan ilmu. Ilmu yang terpenting diajarkan dalam rumah tangga adalah ilmu mengenal Allah dan jalan menuju Allah, sebab berdakwah adalah menjadi teladan bagi orang lain kepada Allah. Maka, penting mempelajari ilmu-ilmu yang mengenalkan seluruh anggota keluarga kepada Allah dan jalan yang mengarahkan kepada-Nya (al-Shirath al-Mustaqim). Karenanya, di antara tanda keluarga yang akan menjadi keluarga dakwah adalah jika seisi rumah tangga diilhamkan kesenangan menuntut ilmu agamanya. 

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi rumah tangga maka diberikan kecenderungan mempelajari agama, yang muda menghormati yang tua, dicukupkan rizkinya dalam kehidupan, sederhana dalam kehidupan, mampu melihat kekurangan, dan kemudian bertaubat. Jika Allah menghendaki yang sebaliknya maka dibiarkannya keluarga itu dalam kesesatan.” (HR Ad Dailami)
3. Pilar ekonomi
Berapa banyak keluarga yang tercerai berai bahkan runtuh hanya karena alasan ekonomi yang tak tercukupi. Penyebab utamanya adalah karena tidak tegaknya ibadah dan budaya ilmu di rumah itu. Bekal lain yang dibutuhkan oleh keluarga dakwah adalah kecukupan ekonomi demi ketentraman fisik lahiriah seluruh anggota keluarga. Maksudnya, bukan hanya terpenuhinya kebutuhan pokok keluarga, melainkan kemampuan untuk menabung demi menghadapi masa-masa sulit sehingga ketahanan keluarga secara lahir dan batin tetap terjaga. Hal ini tentu juga akan menjaga kesinambungan dakwah yang sedang dijalankan. Selain itu, menjauhi gaya hidup boros dan hedonis agar tidak terjerumus pada kesengsaraan dunia akhirat.
***
“Semoga kelak akan dapat terwujud untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah dan keluarga dakwah yang rahmatan lil alamin... Aamiin :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar