” TEGAR DIJALAN DAKWAH”
Cahyadi
Takariawan
Tantangan
dakwah beraneka ragam bentuknya, selama ini kita mengenal dalam bentuk klasik;
penolakan, cibiran, cacian, bahkan terror, banyak para dai mampu mengatasi
dengan baik karena niatnya memang telah kuat sebagai pejuang. Meski demikian,
ada pula yang tidak mampu mengatasinya hingga tersingkir dari kancah dakwah.
Kini ada
tantangan baru dakwah, ketika kehidupan berpolitik dan bernegara telah
melibatkan partisipasi langsung seluruh masyarakat, maka muncullah banyak
politikus dan pemimpin negeri ini ynag berlatar belakang agama cukup kuat.
Tantangan dakwah dalam bentuk menjawab tuntutan mihwar daulah ini tentu menghajatkan aktivis yang tidak tangguh saja tangguh menghadapi tantangan klasik, namun juga harus cakap menghadapi tantangan modern, yaitu mengatasi problematika sosial yang lebih komprehensif.
Tantangan dakwah dalam bentuk menjawab tuntutan mihwar daulah ini tentu menghajatkan aktivis yang tidak tangguh saja tangguh menghadapi tantangan klasik, namun juga harus cakap menghadapi tantangan modern, yaitu mengatasi problematika sosial yang lebih komprehensif.
Buku ini
membahas tentang problematika dakwah, baik internal, maupun eksternal, untuk
disingkapi dengan bijak dan cerdas oleh para aktivis dakwah.
BAB
1.PROBLEMATIKA INTERNAL AKTIVIS DAKWAH
GEJOLAK
KEJIWAAN
1. Gejolak
syahwat
Stabilitas
manawiyah (moralitas) para aktivis dakwah bisa tertanggu disebabkan oleh
syahwat, apalagi bagi aktivis dakwah yang belum menikah, untuk itu , para
aktivis harus jadi pihak yang paling pandai menjaga dirinya sehingga gejolak
syahwat tidak menyebabkan potensi negative dalam kegiatan dakwah.
2. Gejolak
amarah
Gejolak
kejiwaan yang muncul pada diri aktivis dakwah dalam melihat suatu keadaan, baik
dimedan dakwah maupun pada penataan (tanzhimiyah) gerak dakwah itu, membuka
peluang kearah terjadinya fitnah dikalangan muslim sendiri. Gejolak ini harus
segera diselesaikan, kalau tidak akan membahayakan gerak dakwah, disinilah
peranan penting qiyadah, satu sisi memberikan hukuman, atau peringatan bagi
yang melanggar.
3. Gejolak
heroisme
Kadang kita
jumpai semangat heroisme seperti,mengalahkan musuh, pada titik tertentu hal ini
menjadi heroisme, tapi jika gejolak ini tidak diletakkan secara tepat, bisa
menimbulkan dampak negative. Hal ini harus diluruskan agar tidak membuka celah
yang membahayakan tatanan dakwah islam.
4. Gejolak kecemburuan
Sejarah
perjuangan generasi kekuasaan islam adalah sejarah kepahlawanan manusia, bukan
sejarah para malaikat, ada kalanya perasaan mereka terusik oleh suatu
kecemburuan, yang sulit terdefinisikan.
5. Pelajaran
penting
Para aktiivis
harus pandai menata kondisi kejiwaannya, dimana organisasi dakwah harus mampu
memberikan dukungan. Sekecil apapun gejolak itu, apabila membahayakan dakwah
harus segera diselesaikan.
B. KETIDAKSEIMBANGAN AKTIVITAS
1.
Ketidakseimbangan antara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan
Peningkatan iman dan takwa tak mampu di akulasi, karena lebih merasakanan lelahnya daripada takwanya, jika tidak ada keseimbangan antara aktivitas ruhiyah dengan lapangan, gejala kejenuhan aktivis merupakan indikasi sebuah gerak dakwah yang tidak mengikuti manhaj dakwah Rasulullah SAW
Peningkatan iman dan takwa tak mampu di akulasi, karena lebih merasakanan lelahnya daripada takwanya, jika tidak ada keseimbangan antara aktivitas ruhiyah dengan lapangan, gejala kejenuhan aktivis merupakan indikasi sebuah gerak dakwah yang tidak mengikuti manhaj dakwah Rasulullah SAW
2.
Ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga
Sesibuk apapun kegiatan aktivis diluar rumah, tidak boleh mengabaikan dakwah didalam rumah mereka. Akan menjadi kerugian yang sangat besar, apabila keluarga tidak terurus karena kesibukan dakwah diluar rumah.
Sesibuk apapun kegiatan aktivis diluar rumah, tidak boleh mengabaikan dakwah didalam rumah mereka. Akan menjadi kerugian yang sangat besar, apabila keluarga tidak terurus karena kesibukan dakwah diluar rumah.
3.
Ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi
Aktivitas pribadi harus ditunaikan dengan baik, karena tidak akan diambil alih oleh organisasi. Sehingga harus pandai mengelola kegiatan agar selalu seimbang antara penunaian kewajiban pribadi dengan organisasi.
Aktivitas pribadi harus ditunaikan dengan baik, karena tidak akan diambil alih oleh organisasi. Sehingga harus pandai mengelola kegiatan agar selalu seimbang antara penunaian kewajiban pribadi dengan organisasi.
4.
Ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi
Amal tarbawi (kegiatan pembinaan) adalah fondasi bagi seluruh aktivitas kehidupan, termasuk didalamnya amal siyasi. Amal siyasi itu mengasyikan dan menantang. Tanpa amal siyasi maka bangunan amal tarbawi tidak menunjukkan produktivitas karena hanya menunaikan kegiatan internal tanpa ekspansi keluar.
Amal tarbawi (kegiatan pembinaan) adalah fondasi bagi seluruh aktivitas kehidupan, termasuk didalamnya amal siyasi. Amal siyasi itu mengasyikan dan menantang. Tanpa amal siyasi maka bangunan amal tarbawi tidak menunjukkan produktivitas karena hanya menunaikan kegiatan internal tanpa ekspansi keluar.
5.
Ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM
6. Gerakan
dakwah memerlukan kualitas personal, namun juga kuantitas yang banyak. Bagus
dan banyak, itulah yang diperlukan, bukan hanya bagus tapi sedikit, atau
sebaliknya.
7. Penyebab
Ketidakseimbangan
a. Pola keja
infiradiyah
Pola kerja
seperti ini cenderung membuat cepat lelah, problematika umat tidak bisa
diselesaikan seorang diri, tapi diselesaikan dengan kebersamaan
b. Lemahnya perasaan mas’uliyah
b. Lemahnya perasaan mas’uliyah
Diperlukan
tarbiyah masuliyah bagi setiap aktivis secara sistematis agar selalu bisa
memunculkan sifat al-istisy bil mas’uliyah.
c. Kesalahan
cara pandang
d. Kesalahan
dalam membuat perhitungan
Membuat
perhitungan harus dilakukan dengan cermat, dan melibatkan proses musyawarah
untuk, mendapat banyak pertimbangan dan masukan.
e. Pembagian
tugas yang buruk
Pembebanan
yang pas dan sesuai dengan kafaah (potensi) masing – masing person, akan dapat
dihindari peluang timbulnya kejenuhan aktivitas.
8. Jalan
keluar ruhaniyah
Hanya
mendekatkan diri kepada Allah SWT sajalah kejenuhan aktivis akan hilang dari
para aktivis dakwah, yang ada hanyalah kenikmatan perjuangan dan kelezatan pergerakan
bersama islam.
9. Jalan
keluar idariyah
Cipatakan
sinkron antara potensi sumber daya amnesia yang dimiliki dengan lapangan amanah
yang tersedia. Untuk menyelesaikan ketidakseimbangan aktivis secara manajerial
(idariyah), ada 3 jalan yang bisa ditempuh, yaitu:
a. Musyawarah
b. Pertimbanagn yang utuh menyeluruh
c. Partisipasi
aktivis
C. LATAR BELAKANG DAN MASA LALU AKTIVIS
1. Latar
belakan keagamaan keluarga
a. Lemah dalam
tsaqofah islam
Disebabkan
sejak kecil tidak pernah diberikan pelajaran tentang islam, sehingga ia harus
memulai dari nol ketika beranjak dewasa.
b. Tekanan
keluarga
Tingkat
tekanan hanya sekadar lontaran ketidaksukaan, sampai tingkat fisik, walaupun
begitu aktivis dakwah harus bisa menjaga hubungan baik antara keluarga, karena
aktivis dakwah bukanlah para pembuat keributan.
c. Kerancuan
dalam orientasi kehidupan
Seperti dalam urusan pernikahan, memilih pekerjaan, kadang ada perbedaan antara aktivis dengan orangtua, maka tugas kita adalah melakukan pendekatan yang sebaik- baiknya.
2. Sifat dan
prilaku jahiliyah masa lalu
Sifat dan
perilaku sisa kejahiliyaan kadang menggangu kelancaran dakwah secara sistematik
atau bisa juga mempengaruhi kondisi maknawiyahnya sendiri.
3. Langkah
perbaikan
Pertama kali
aktivis dakwah harus mengubah masa lalu kejahiliyahannya. Biarlah yang telah
terjadi, yang terpenting adalah kehidupan kini dan seterusnya harus tersibgah
secara total dalam islam.
D. PENYESUAIAN DIRI
D. PENYESUAIAN DIRI
Dalam konteks
kehidupan dakwah saat ini, pergerakan dakwah mulai menapaki fase perjuangan
politik (mihwar Muasasi), yang mereka dalam mihwar tanzhimi yang memfokuskan
kepada pembinaan individu, mencetak kader,tapi saat gerakan dakwah mulai
memasuki perjuangan politik, para aktivis harus meninggalkan sifat ketertutupan
menuju ruang public yang terbuka, sehingga setiap aktivis harus selalu berusaha
meningkatkan kapasitas dirinya, agar bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan
tahapan dakwah yang terus berkembang.
1. Hambatan Penyesuaian diri
1. Hambatan Penyesuaian diri
a. Sifat
“kelembaman” kemanusiaan
b.
Kecenderungan jiwa
c.
Keterbatasan dan perbedaan tsaqofah
d.
Keterbatasan kapasitas
2. Peran kelembagaan dakwah
Masalah
penyesuain diri jangan diserahkan kepada kemapuan masing – masing aktivis
dakwah, tetapi lembaga dakwah memiliki peran yang sangat besar, kemampuan para
aktivis untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan tahapan dakwah
akan mudah didapatkan apabila gerakan dakwah berupaya yang serius dan
terprogram
E. FRIKSI INTERNAL
E. FRIKSI INTERNAL
1. Belajar
dari gerakan Al – Ikhwan
Amat berat
bagi ikhwan untuk menemukan sosok penganti Hasan Al–banna, selain factor teknis
berupa pemenjaraan, juga faktor berupa penerimaan hati yang harus mengalami
masa penyesuaian. Bersyukur bahwa ikhwan keluar dari friksi internal dengan
selamat, akan halnya Nizham khas, pada akhirnya harus dibubarkan untuk
selama-lamanya pada masa kepemimpinan Mursyid Al Hudaibi setelah peristiwa Al –
Mansyiah yang menjadis bumbu ledak bagi penguasa untuk memberangus ikhwan,
kesan kekerasan yang dicitrakan kepada ikhwan harus diakui salah satunya
disebabkan oleh keberadaan Nizham khas dimana Abdun Naser pernah menjadi
angotanya.
2. Mengambil pelajaran dari fraksi
2. Mengambil pelajaran dari fraksi
a. Adanya friksi
merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah dikalangan umat secara umum,dan para
aktivis dakwah secara khusus.
b. Friksi
internal menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri aktivis.
c.
Strukturilasi dakwah baru tepat dilakukan terhadap orang – orang yang telah
memahami karakter dakwah itu sendiri
d. Friksi
merupakan bukti keberadaan ego manusia
e. Penumbuhan
kesadaran berislam dan kesadaran dakwah lebih utama dibandingkan sekadar
meletak semangat bergerak
f. Friksi yang
muncul akibat hadirnya pihak ketiga yang sengaja ingin memperkeruh dan memperlemah
kaum mukmin
3. Mengelola
ikhtilat
Perbedaan
pendapat sudah terjadi di masa – masa keemasan sudah terjadi, artinya bukan
sesuatu yang baru, islam telah menetapkan dua landasan utama dalam islam , yaitu
Al- Qur’an dan As- sunah yang telah disepakati , dengan dua landasan inilah
kaum muslimin mendapatkan bimbingan dalam hidupnya.
4. Asbabul
ikhtilat
a. Tabiat
agama islam
Allah
menurunkan hukumNya secara eksplisit (muhkamat, mutasyabihat, qithi (pasti),
zhani (belum pasti), sharih (jelas), muawal secara dan implicit.
Untuk yang sudah pasti atau jelas , tidak memuculkan perbedaan, tapi yang bersifat zhanni dan muawal bisa menimbulkan perbedaan pendapat yang amat besar.
Untuk yang sudah pasti atau jelas , tidak memuculkan perbedaan, tapi yang bersifat zhanni dan muawal bisa menimbulkan perbedaan pendapat yang amat besar.
b. Tabiat
bahasa (arab)
Didalam bahasa
arab ada lafazh musytarak yang memiliki lebih dari satu arti.
c. Tabiat
manusia
d. Tabiat alam
dan kehidupan
5. Ikhtilat
yang tercela
a. Perbedaan
yang bermotivasikan pembakangan, kedengkian dan mengikuti hawa nafsu
b. Perbedaan
pendapat yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan
Berapa banyak organisasi islam hancur berkeping Karena tidak mampu mengelola deras dan kuatnya perpecahan di antara aktivitasnya , kondisi ini tidak boleh dianggap sepele bahkan harus dijadikan bahan pelajaran bagi gerakan dakwah dimanapun, agar semakin bijak mengelola perbedaan
Berapa banyak organisasi islam hancur berkeping Karena tidak mampu mengelola deras dan kuatnya perpecahan di antara aktivitasnya , kondisi ini tidak boleh dianggap sepele bahkan harus dijadikan bahan pelajaran bagi gerakan dakwah dimanapun, agar semakin bijak mengelola perbedaan
6. Bekal
menghadapi keragaman
a. Ilmu yang
luas dan sahih
b. Ikhlas
karena Allah dan terbebas dari nafsu
c. Meninggalkan
fanatisme individu, madzhab dan kelompok
d.
Berprasangka baik kepada pihak lain
e. Tidak
menyakiti dan mencela
BAB 2 : PROBLEMATIKA EKSTERNAL DAKWAH
Era baru yang
dimasuki bangsa Indonesia saat ini adalah era keterbukaan informasi, era perdagangan
bebas, era teknologi, era globalisasi dan moderinisasi, yang tentu saja membawa
sejumlah dampak positif maupun negatif. Anthony Giddens (1999), menggambarkan
dunia pada pengunjung abad keduapuluh dicirikan oleh manucfactured uncertainty,
maksudnya sebuah masa yang diliputi oleh ketidakpastian, hal ini disebabkan
bukan dari alam, tetapi oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya,
misalnya pemanasan global.
A. PROBLEMATIKA SPIRITUAL DAN KULTURAL
A. PROBLEMATIKA SPIRITUAL DAN KULTURAL
1. Berhala –
berhala modern
Maksudnya
yaitu ada teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran, ada sains yang
diabsolutkan, dll, mengajak manusia modern menuju kepada iman memang pekerjaan
berat, sebagaimana Rasulullah SAW melakukan dakwah secara bertahap.
2. Syirik,
khurafat dan takhayul di era teknologi
Dengan kemajuan
teknologi yang terjadi, rupa – rupanya justru mengerus nilai – nilai kemanusian,
banyak yang jatuh dalam perbuatan syirik, misalnya memakai jimat agar terpilih
jadi anggota legislative, hal ini harus dihilangkan, karena akan merusak mental
bangsa.
3. Globalisasi
dan dialektika cultural
Yang sedang
terjadi adalah dialektika budaya, gaya hidup dan pandangan hidup, bukan ayam
goreng yang sedang djual, tetapi bagaimana memiliki kebangggan dan gengsi
Amerika dalam selera makan, dalam diskursus mengenai globalisasi, tidak bisa
mengabaikan peran media massa dalam penyebaran dan perluasan pengaruhnya,
teknologi massa telah menyebabkan dunia, menjadi telanjang, tanpa ada bagian
yang bisa disembunyikan, jalan yang paling awal adalah dengan menciptakan
benteng moral yang kukuh bagi setiap individu, agar mereka bisa memilah mana
yang membawa kepada kemaslahatan dan mana yang membawa kepada kerusakan.
4. Tradisi dan
perkembangan peradaban
Seiring
perjalanan waktu , semangat gotong royong dan kebersaman makin terkikis oleh
kemajuan peradaban.
B. PROBLEMATIKA MORAL
1. Mabuk dan penyalahgunaan
obat- obatan
2.
Penyelewengan seksual
3. Perjudian
dan penipuan
4. Tindak
brutal dan kekerasan
C. PROBLEMATIKA SISTEMIK
1. Korupsi,
kolusi, dan nepotisme
2. Kemiskinan
3. Kebodohan
4.
Disintegrasi bangsa
BAB 3: DAYA TAHAN DI MEDAN DAKWAH
A. MENGUATKAN
DAN MEMBERSIHKAN MOTIVASI
Daya tahan
dalam lapangan dakwah sangat dipengaruhi oleh kekuatan dan kelurusan motivasi,
bersihnya motivasi Karena Allah akan menyebabkan para aktivis tidak memiliki
ambisi- ambisi duniawi. Para ulama secara spesifik memberikan kedudukan yang
sangat mulia kepada keikhlasan.
1. Memahami makna ikhlas
1. Memahami makna ikhlas
Ikhlas adalah
bersih dari segala noda dan menjadikan sesuatu murni tanpa noda sedikitpun,
sedangkan pengertian ikhlas secara syari ialah niat mencari ridha Allah semata
dengan amal yang murni dari segala perusaknya. Apabila seorang beraktivitas
dengan orientasi dominan untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala maka ia akan
mendapatkannya, ini yang disebut sebagai niat ikhlas, sebaliknya apabila
orientasi dominan yang menyebabkan ia melaksanakanya aktivitas tersebut adalah
keridhaan manusia maka hanya itu pula yang bisa ia dapatkan, ini dalam bahasa
keseharian disebut sebagai tidak ikhlas.
2. Mencapai
derajat ikhlas
a. Senantiasa
memperbaharui niat
b. Berusaha
keras menuanaikan kewajiban
c. Berusaha
keras mewujudkan kecintaan kepada Allah
d. Merasakan
pengawasan Allah
e. Hati – hati
dalam beramal
B. MENCAPAI
DERAJAT IMAN
1. Janji Allah
terhadap orang yang beriman
a. Kemenangan
atas musuh – musuh mereka
b. Jaminan
bahwa orang – orang kafir tak akan menguasai mereka
c. Mendapatkan
izzah
d. Kehidupan
dan rezeki yang baik
e. Menjadi
khalifah fil ardhi
f. Mendapatkan
surga
2. Upaya
meraih derajat keimanan
a. Orientasi
Rabbani
Yang dimaksud
dengan orientasi Rabbani adalah menjadikan seluruh aktivitas selalu
berorientasi kepada Allah, dengan menjadikan Allah sebagai orientasi utama
dalam kehidupan, para aktivis jangan terjebak dalam orientasi duniawi, karena
banyak tawaran dan iming – iming materi.
b. Berhati –
hati terhadap orientasi duniawi.
Aktivitas
dakwah llallah harus dibersihkan dari orientasi kebendaan dan duniawi, Islam
tidak menolak materi dan kesenangan duniawi, namun jangan sampai dijadikan
sebagai orientasi utama.
C.
MENGGANDAKAN KESABARAN
1. Hikmah
kesabaran
a. Dijadikan pemimpin
karena sabar
b. Pahala
besar bagi yang sabar
c. Allah
membersamai mereka yang sabar
d. Mendapatkan
berbagai macam kebaikan karena sabar
2. Bahaya
hilangnya kesabaran
Semakin besar
bala (cobaan) yang menimpa, semakin besar pula kebutuhan kesediaan kesabaran,
hilangnya kesabaran dalam diri seorang aktivis dakwah muslim, bisa berakibat
sangat fatal bagi dirinya sendiri, maupun bagi gerak dakwah secara umum.
3. Agar bisa
bersabar.
Memberikan
dorongan jiwa untuk mengejar dengan sunguh – sungguh faedah yang ditimbulkan
oleh kesabaran.
b. Hendaklah
pengaruh hawa nafsu itu kita lawan secara mati – matian, baik dengan sekaligus
ataupun secara berangsur – angsur.
D. KEKUATAN
UKHUWAH
Ukhuwah adalah
sebuah kenyataan naluriyah, batas ukhuwah bukanlah etnis atau geografis, akan
tetapi batas saudara adalah wilayah aqidah, aqidah menjadi kawasan persaudaraan
menjadikan ukhuwah bisa kukuh sendiri, persamaan aqidah akan membawa kepada
persamaan pandangan hidup dan orientasi perjuangan, bersaudara bukan hal yang
dibuat – buat, apalagi dipaksakan, tumbuh dan berkembangnya perasaan cinta dan
kasih sayang di hati adalah karena Allah Ta’ala telah berkenan mengikat hati
orang – orang yang beriman dalam sebuah jalinan persaudaraan:
1. Keteladanan ukhuwah di zaman kenabian
1. Keteladanan ukhuwah di zaman kenabian
2. Hubungan
sesama aktivtas berlandaskan cinta dan kasih sayang
3. Penghambat
ukhuwah
Pertikaian di
dalam tubuh umat ini senantiasa membawa akibat melemahnya imunitas kaum
muslimin dari invansi musuh ke dalam tubuhnya, tak ayal kaum muslimin menjadi
hilang kekuatan, kehilangan ukhuwah berarti kehilangan pula orientasi dakwahnya
, sehingga bisa membuat lembaga berubah menjadi arena berkumpulnya orang –
orang islam untuk mengekspresikan kepentingan dan ambisi pribadinya yang
dilegalisasikan atas nama dakwah, hal ini akan menyebabkan pada beberapa
kerugian lainnya, yaitu : visi perjuangan menjadi hilang, visi pengorbanan
telah tiada, yang ada tinggal sisa –sisa kejayaan masa lalu dan sejumlah agenda
problem intern dan kesenjangan hubungan antara individu.
E. DUKUNGAN
SOLIDITAS STRUKTUR
Gerakan dakwah
yang solid akan memberikan dukungan sangat besar bagi setiap aktivis untuk
memiliki daya tahan di dalam perjuangan, namun sebaliknya jika kondisi struktur
tidak solid, akan memberikan dampak negative bagi daya tahan para aktivis.
1. Upaya membentuk soliditas struktur
a. Konsolidasi
manejerial
Kondisi
manajerial dilakukan dengan penataan manjemen yang bagus dan professional dalam
jalur dan lini, diantaranya fungsi manajemen yang penting bagai gerakan dakwah
adalah perencanaan yang matang dan berjangka panjang, membuat program kerja berdasarkan
perencananan strategis, pemetaan dan pendayagunaaan SDM.
b. Konsolidasi
operasional
Konsolidasi
opersional dimaksudkan untuk menyinkronkan berbagai kegaiatan dalam skala gerakan,
sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan,
dengan konsolidasi operasional ini diharapkan tak ada tumpang tindih dalam
melaksanakan kegiatan.
2. Hal – hal
yang merusak soliditas
a. Munculnya
sekat komunikasi
b. Lemahnya
mana’ah tanzhimiyyah (imunitas structural)
Contohnya
peraturan dan mekanisme organisasi sudah tidak ditaati oleh para anggota
gerakan, perlahan tapi pasti, soliditas melemah, yang ujung hanya adalah
kerusakan sistemik pergerakan dakwah.
F. SEKALI LAGI, HARUS SELLAU MEMPERBAIKI PERSIAPAN
1. Persiapan
total untuk meraih kemenangan
2. SDM sebagai
investasi utama
3. Berhitung
kekuatan
BAB 4: YANG TEGAR DI JALAN DAKWAH
Ketika
syakhshiyah telah terbentuk , dan persiapan telah dilakukan sebaik mungkin menurut
perhitungan manusiawi maka segala mihnah akan bisa ditanggung secara ikhlas
tanpa beban, lihatlah para mu’assis dakwah Islam, mereka senatiasa tegar
menghadapi berbagai cobaan yang menimpa, baik bersifat individu maupun sistemik,
kematian adalah resiko yang menyenangkan, sebab pahalanya telah pasti bagi
setiap perjuang kebenaran, apabila resiko tertinggi ini telah diperhitungkan,
sementara segala perangkat tekhnis gerak telah dirancang rapi, rasa- rasanya
tidak satupun menempuh perjalanan panjang di medan dakwah.
Sebagai seorang
aktivis, harus dapat Tegar dalam menghadapi ejekan, tegar dalam menghadapi
gelombang fitnah, tegar dalam menghadapi terror fisik, tegar dalam menghadapi
manisnya rayuan, tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, tegar dalam
kekurangan, tegar dalam kemapanan, dan tegar di puncak kekuasaan.
Menjadi
aktivis yang tegar dijalan dakwah yaitu kelurusan orientasi perjuangan,
ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah SAW dan keyakinan akan janji – janji Nya,
semua menjadi titik penentu dalam gerak perjuangan kita menerjang berbagai
macam badai yang menghantam.
Ikhwatifillah
saatnya mempertanyakan pada diri. Tegarkah kita di jalan dakwah? Jika ya,
jangan ragui itu. Mari berbenah, lalu melangkah pasti di medan dakwah yang
penuh tantangan global ini. Raih masa depan yang gilang-gemilang. Rajut
peradaban yang berkilau cemerlang.
Innamal mu’minuunal ladziina aamanuu billaahi warasuulihi tsumma lam yartaabuu…
(sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasulnya, kemudian mereka tidak ragu-ragu…)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar