Kamis, 14 Juli 2016

” TEGAR DIJALAN DAKWAH”



” TEGAR DIJALAN DAKWAH”
Cahyadi Takariawan

Tantangan dakwah beraneka ragam bentuknya, selama ini kita mengenal dalam bentuk klasik; penolakan, cibiran, cacian, bahkan terror, banyak para dai mampu mengatasi dengan baik karena niatnya memang telah kuat sebagai pejuang. Meski demikian, ada pula yang tidak mampu mengatasinya hingga tersingkir dari kancah dakwah.
Kini ada tantangan baru dakwah, ketika kehidupan berpolitik dan bernegara telah melibatkan partisipasi langsung seluruh masyarakat, maka muncullah banyak politikus dan pemimpin negeri ini ynag berlatar belakang agama cukup kuat.
Tantangan dakwah dalam bentuk menjawab tuntutan mihwar daulah ini tentu menghajatkan aktivis yang tidak tangguh saja tangguh menghadapi tantangan klasik, namun juga harus cakap menghadapi tantangan modern, yaitu mengatasi problematika sosial yang lebih komprehensif.
Buku ini membahas tentang problematika dakwah, baik internal, maupun eksternal, untuk disingkapi dengan bijak dan cerdas oleh para aktivis dakwah.
BAB 1.PROBLEMATIKA INTERNAL AKTIVIS DAKWAH
GEJOLAK KEJIWAAN
1. Gejolak syahwat
Stabilitas manawiyah (moralitas) para aktivis dakwah bisa tertanggu disebabkan oleh syahwat, apalagi bagi aktivis dakwah yang belum menikah, untuk itu , para aktivis harus jadi pihak yang paling pandai menjaga dirinya sehingga gejolak syahwat tidak menyebabkan potensi negative dalam kegiatan dakwah.
2. Gejolak amarah
Gejolak kejiwaan yang muncul pada diri aktivis dakwah dalam melihat suatu keadaan, baik dimedan dakwah maupun pada penataan (tanzhimiyah) gerak dakwah itu, membuka peluang kearah terjadinya fitnah dikalangan muslim sendiri. Gejolak ini harus segera diselesaikan, kalau tidak akan membahayakan gerak dakwah, disinilah peranan penting qiyadah, satu sisi memberikan hukuman, atau peringatan bagi yang melanggar.
3. Gejolak heroisme
Kadang kita jumpai semangat heroisme seperti,mengalahkan musuh, pada titik tertentu hal ini menjadi heroisme, tapi jika gejolak ini tidak diletakkan secara tepat, bisa menimbulkan dampak negative. Hal ini harus diluruskan agar tidak membuka celah yang membahayakan tatanan dakwah islam.
4. Gejolak kecemburuan
Sejarah perjuangan generasi kekuasaan islam adalah sejarah kepahlawanan manusia, bukan sejarah para malaikat, ada kalanya perasaan mereka terusik oleh suatu kecemburuan, yang sulit terdefinisikan.
5. Pelajaran penting
Para aktiivis harus pandai menata kondisi kejiwaannya, dimana organisasi dakwah harus mampu memberikan dukungan. Sekecil apapun gejolak itu, apabila membahayakan dakwah harus segera diselesaikan.

B. KETIDAKSEIMBANGAN AKTIVITAS
1. Ketidakseimbangan antara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan
Peningkatan iman dan takwa tak mampu di akulasi, karena lebih merasakanan lelahnya daripada takwanya, jika tidak ada keseimbangan antara aktivitas ruhiyah dengan lapangan, gejala kejenuhan aktivis merupakan indikasi sebuah gerak dakwah yang tidak mengikuti manhaj dakwah Rasulullah SAW
2. Ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga
Sesibuk apapun kegiatan aktivis diluar rumah, tidak boleh mengabaikan dakwah didalam rumah mereka. Akan menjadi kerugian yang sangat besar, apabila keluarga tidak terurus karena kesibukan dakwah diluar rumah.
3. Ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi
Aktivitas pribadi harus ditunaikan dengan baik, karena tidak akan diambil alih oleh organisasi. Sehingga harus pandai mengelola kegiatan agar selalu seimbang antara penunaian kewajiban pribadi dengan organisasi.
4. Ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi
Amal tarbawi (kegiatan pembinaan) adalah fondasi bagi seluruh aktivitas kehidupan, termasuk didalamnya amal siyasi. Amal siyasi itu mengasyikan dan menantang. Tanpa amal siyasi maka bangunan amal tarbawi tidak menunjukkan produktivitas karena hanya menunaikan kegiatan internal tanpa ekspansi keluar.
5. Ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM
6. Gerakan dakwah memerlukan kualitas personal, namun juga kuantitas yang banyak. Bagus dan banyak, itulah yang diperlukan, bukan hanya bagus tapi sedikit, atau sebaliknya.
7. Penyebab Ketidakseimbangan
a. Pola keja infiradiyah
Pola kerja seperti ini cenderung membuat cepat lelah, problematika umat tidak bisa diselesaikan seorang diri, tapi diselesaikan dengan kebersamaan
b. Lemahnya perasaan mas’uliyah
Diperlukan tarbiyah masuliyah bagi setiap aktivis secara sistematis agar selalu bisa memunculkan sifat al-istisy bil mas’uliyah.
c. Kesalahan cara pandang
d. Kesalahan dalam membuat perhitungan
Membuat perhitungan harus dilakukan dengan cermat, dan melibatkan proses musyawarah untuk, mendapat banyak pertimbangan dan masukan.
e. Pembagian tugas yang buruk
Pembebanan yang pas dan sesuai dengan kafaah (potensi) masing – masing person, akan dapat dihindari peluang timbulnya kejenuhan aktivitas.
8. Jalan keluar ruhaniyah
Hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT sajalah kejenuhan aktivis akan hilang dari para aktivis dakwah, yang ada hanyalah kenikmatan perjuangan dan kelezatan pergerakan bersama islam.
9. Jalan keluar idariyah
Cipatakan sinkron antara potensi sumber daya amnesia yang dimiliki dengan lapangan amanah yang tersedia. Untuk menyelesaikan ketidakseimbangan aktivis secara manajerial (idariyah), ada 3 jalan yang bisa ditempuh, yaitu:
a. Musyawarah

b. Pertimbanagn yang utuh menyeluruh
c. Partisipasi aktivis

C. LATAR BELAKANG DAN MASA LALU AKTIVIS
1. Latar belakan keagamaan keluarga
a. Lemah dalam tsaqofah islam
Disebabkan sejak kecil tidak pernah diberikan pelajaran tentang islam, sehingga ia harus memulai dari nol ketika beranjak dewasa.
b. Tekanan keluarga
Tingkat tekanan hanya sekadar lontaran ketidaksukaan, sampai tingkat fisik, walaupun begitu aktivis dakwah harus bisa menjaga hubungan baik antara keluarga, karena aktivis dakwah bukanlah para pembuat keributan.
c. Kerancuan dalam orientasi kehidupan

Seperti dalam urusan pernikahan, memilih pekerjaan, kadang ada perbedaan antara aktivis dengan orangtua, maka tugas kita adalah melakukan pendekatan yang sebaik- baiknya.
2. Sifat dan prilaku jahiliyah masa lalu
Sifat dan perilaku sisa kejahiliyaan kadang menggangu kelancaran dakwah secara sistematik atau bisa juga mempengaruhi kondisi maknawiyahnya sendiri.
3. Langkah perbaikan
Pertama kali aktivis dakwah harus mengubah masa lalu kejahiliyahannya. Biarlah yang telah terjadi, yang terpenting adalah kehidupan kini dan seterusnya harus tersibgah secara total dalam islam.

D. PENYESUAIAN DIRI
Dalam konteks kehidupan dakwah saat ini, pergerakan dakwah mulai menapaki fase perjuangan politik (mihwar Muasasi), yang mereka dalam mihwar tanzhimi yang memfokuskan kepada pembinaan individu, mencetak kader,tapi saat gerakan dakwah mulai memasuki perjuangan politik, para aktivis harus meninggalkan sifat ketertutupan menuju ruang public yang terbuka, sehingga setiap aktivis harus selalu berusaha meningkatkan kapasitas dirinya, agar bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan tahapan dakwah yang terus berkembang.
1. Hambatan Penyesuaian diri
a. Sifat “kelembaman” kemanusiaan
b. Kecenderungan jiwa
c. Keterbatasan dan perbedaan tsaqofah
d. Keterbatasan kapasitas
2. Peran kelembagaan dakwah
Masalah penyesuain diri jangan diserahkan kepada kemapuan masing – masing aktivis dakwah, tetapi lembaga dakwah memiliki peran yang sangat besar, kemampuan para aktivis untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan tahapan dakwah akan mudah didapatkan apabila gerakan dakwah berupaya yang serius dan terprogram

E. FRIKSI INTERNAL
1. Belajar dari gerakan Al – Ikhwan
Amat berat bagi ikhwan untuk menemukan sosok penganti Hasan Al–banna, selain factor teknis berupa pemenjaraan, juga faktor berupa penerimaan hati yang harus mengalami masa penyesuaian. Bersyukur bahwa ikhwan keluar dari friksi internal dengan selamat, akan halnya Nizham khas, pada akhirnya harus dibubarkan untuk selama-lamanya pada masa kepemimpinan Mursyid Al Hudaibi setelah peristiwa Al – Mansyiah yang menjadis bumbu ledak bagi penguasa untuk memberangus ikhwan, kesan kekerasan yang dicitrakan kepada ikhwan harus diakui salah satunya disebabkan oleh keberadaan Nizham khas dimana Abdun Naser pernah menjadi angotanya.
2. Mengambil pelajaran dari fraksi
a. Adanya friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah dikalangan umat secara umum,dan para aktivis dakwah secara khusus.
b. Friksi internal menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri aktivis.
c. Strukturilasi dakwah baru tepat dilakukan terhadap orang – orang yang telah memahami karakter dakwah itu sendiri
d. Friksi merupakan bukti keberadaan ego manusia
e. Penumbuhan kesadaran berislam dan kesadaran dakwah lebih utama dibandingkan sekadar meletak semangat bergerak
f. Friksi yang muncul akibat hadirnya pihak ketiga yang sengaja ingin memperkeruh dan memperlemah kaum mukmin
3. Mengelola ikhtilat
Perbedaan pendapat sudah terjadi di masa – masa keemasan sudah terjadi, artinya bukan sesuatu yang baru, islam telah menetapkan dua landasan utama dalam islam , yaitu Al- Qur’an dan As- sunah yang telah disepakati , dengan dua landasan inilah kaum muslimin mendapatkan bimbingan dalam hidupnya.
4. Asbabul ikhtilat
a. Tabiat agama islam
Allah menurunkan hukumNya secara eksplisit (muhkamat, mutasyabihat, qithi (pasti), zhani (belum pasti), sharih (jelas), muawal secara dan implicit.
Untuk yang sudah pasti atau jelas , tidak memuculkan perbedaan, tapi yang bersifat zhanni dan muawal bisa menimbulkan perbedaan pendapat yang amat besar.
b. Tabiat bahasa (arab)
Didalam bahasa arab ada lafazh musytarak yang memiliki lebih dari satu arti.
c. Tabiat manusia
d. Tabiat alam dan kehidupan
5. Ikhtilat yang tercela
a. Perbedaan yang bermotivasikan pembakangan, kedengkian dan mengikuti hawa nafsu
b. Perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan
Berapa banyak organisasi islam hancur berkeping Karena tidak mampu mengelola deras dan kuatnya perpecahan di antara aktivitasnya , kondisi ini tidak boleh dianggap sepele bahkan harus dijadikan bahan pelajaran bagi gerakan dakwah dimanapun, agar semakin bijak mengelola perbedaan
6. Bekal menghadapi keragaman
a. Ilmu yang luas dan sahih
b. Ikhlas karena Allah dan terbebas dari nafsu
c. Meninggalkan fanatisme individu, madzhab dan kelompok
d. Berprasangka baik kepada pihak lain
e. Tidak menyakiti dan mencela

BAB 2 : PROBLEMATIKA EKSTERNAL DAKWAH
Era baru yang dimasuki bangsa Indonesia saat ini adalah era keterbukaan informasi, era perdagangan bebas, era teknologi, era globalisasi dan moderinisasi, yang tentu saja membawa sejumlah dampak positif maupun negatif. Anthony Giddens (1999), menggambarkan dunia pada pengunjung abad keduapuluh dicirikan oleh manucfactured uncertainty, maksudnya sebuah masa yang diliputi oleh ketidakpastian, hal ini disebabkan bukan dari alam, tetapi oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya, misalnya pemanasan global.

A. PROBLEMATIKA SPIRITUAL DAN KULTURAL
1. Berhala – berhala modern
Maksudnya yaitu ada teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran, ada sains yang diabsolutkan, dll, mengajak manusia modern menuju kepada iman memang pekerjaan berat, sebagaimana Rasulullah SAW melakukan dakwah secara bertahap.
2. Syirik, khurafat dan takhayul di era teknologi
Dengan kemajuan teknologi yang terjadi, rupa – rupanya justru mengerus nilai – nilai kemanusian, banyak yang jatuh dalam perbuatan syirik, misalnya memakai jimat agar terpilih jadi anggota legislative, hal ini harus dihilangkan, karena akan merusak mental bangsa.
3. Globalisasi dan dialektika cultural
Yang sedang terjadi adalah dialektika budaya, gaya hidup dan pandangan hidup, bukan ayam goreng yang sedang djual, tetapi bagaimana memiliki kebangggan dan gengsi Amerika dalam selera makan, dalam diskursus mengenai globalisasi, tidak bisa mengabaikan peran media massa dalam penyebaran dan perluasan pengaruhnya, teknologi massa telah menyebabkan dunia, menjadi telanjang, tanpa ada bagian yang bisa disembunyikan, jalan yang paling awal adalah dengan menciptakan benteng moral yang kukuh bagi setiap individu, agar mereka bisa memilah mana yang membawa kepada kemaslahatan dan mana yang membawa kepada kerusakan.
4. Tradisi dan perkembangan peradaban
Seiring perjalanan waktu , semangat gotong royong dan kebersaman makin terkikis oleh kemajuan peradaban.

B. PROBLEMATIKA MORAL
1. Mabuk dan penyalahgunaan obat- obatan
2. Penyelewengan seksual
3. Perjudian dan penipuan
4. Tindak brutal dan kekerasan

C. PROBLEMATIKA SISTEMIK
1. Korupsi, kolusi, dan nepotisme

2. Kemiskinan
3. Kebodohan
4. Disintegrasi bangsa

BAB 3: DAYA TAHAN DI MEDAN DAKWAH
A. MENGUATKAN DAN MEMBERSIHKAN MOTIVASI
Daya tahan dalam lapangan dakwah sangat dipengaruhi oleh kekuatan dan kelurusan motivasi, bersihnya motivasi Karena Allah akan menyebabkan para aktivis tidak memiliki ambisi- ambisi duniawi. Para ulama secara spesifik memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada keikhlasan.
1. Memahami makna ikhlas
Ikhlas adalah bersih dari segala noda dan menjadikan sesuatu murni tanpa noda sedikitpun, sedangkan pengertian ikhlas secara syari ialah niat mencari ridha Allah semata dengan amal yang murni dari segala perusaknya. Apabila seorang beraktivitas dengan orientasi dominan untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala maka ia akan mendapatkannya, ini yang disebut sebagai niat ikhlas, sebaliknya apabila orientasi dominan yang menyebabkan ia melaksanakanya aktivitas tersebut adalah keridhaan manusia maka hanya itu pula yang bisa ia dapatkan, ini dalam bahasa keseharian disebut sebagai tidak ikhlas.
2. Mencapai derajat ikhlas
a. Senantiasa memperbaharui niat
b. Berusaha keras menuanaikan kewajiban
c. Berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah
d. Merasakan pengawasan Allah
e. Hati – hati dalam beramal
B. MENCAPAI DERAJAT IMAN
1. Janji Allah terhadap orang yang beriman
a. Kemenangan atas musuh – musuh mereka
b. Jaminan bahwa orang – orang kafir tak akan menguasai mereka
c. Mendapatkan izzah
d. Kehidupan dan rezeki yang baik
e. Menjadi khalifah fil ardhi
f. Mendapatkan surga
2. Upaya meraih derajat keimanan
a. Orientasi Rabbani
Yang dimaksud dengan orientasi Rabbani adalah menjadikan seluruh aktivitas selalu berorientasi kepada Allah, dengan menjadikan Allah sebagai orientasi utama dalam kehidupan, para aktivis jangan terjebak dalam orientasi duniawi, karena banyak tawaran dan iming – iming materi.
b. Berhati – hati terhadap orientasi duniawi.
Aktivitas dakwah llallah harus dibersihkan dari orientasi kebendaan dan duniawi, Islam tidak menolak materi dan kesenangan duniawi, namun jangan sampai dijadikan sebagai orientasi utama.
C. MENGGANDAKAN KESABARAN
1. Hikmah kesabaran
a. Dijadikan pemimpin karena sabar
b. Pahala besar bagi yang sabar
c. Allah membersamai mereka yang sabar
d. Mendapatkan berbagai macam kebaikan karena sabar
2. Bahaya hilangnya kesabaran
Semakin besar bala (cobaan) yang menimpa, semakin besar pula kebutuhan kesediaan kesabaran, hilangnya kesabaran dalam diri seorang aktivis dakwah muslim, bisa berakibat sangat fatal bagi dirinya sendiri, maupun bagi gerak dakwah secara umum.
3. Agar bisa bersabar.
Memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sunguh – sungguh faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran.
b. Hendaklah pengaruh hawa nafsu itu kita lawan secara mati – matian, baik dengan sekaligus ataupun secara berangsur – angsur.
D. KEKUATAN UKHUWAH
Ukhuwah adalah sebuah kenyataan naluriyah, batas ukhuwah bukanlah etnis atau geografis, akan tetapi batas saudara adalah wilayah aqidah, aqidah menjadi kawasan persaudaraan menjadikan ukhuwah bisa kukuh sendiri, persamaan aqidah akan membawa kepada persamaan pandangan hidup dan orientasi perjuangan, bersaudara bukan hal yang dibuat – buat, apalagi dipaksakan, tumbuh dan berkembangnya perasaan cinta dan kasih sayang di hati adalah karena Allah Ta’ala telah berkenan mengikat hati orang – orang yang beriman dalam sebuah jalinan persaudaraan:
1. Keteladanan ukhuwah di zaman kenabian
2. Hubungan sesama aktivtas berlandaskan cinta dan kasih sayang
3. Penghambat ukhuwah
Pertikaian di dalam tubuh umat ini senantiasa membawa akibat melemahnya imunitas kaum muslimin dari invansi musuh ke dalam tubuhnya, tak ayal kaum muslimin menjadi hilang kekuatan, kehilangan ukhuwah berarti kehilangan pula orientasi dakwahnya , sehingga bisa membuat lembaga berubah menjadi arena berkumpulnya orang – orang islam untuk mengekspresikan kepentingan dan ambisi pribadinya yang dilegalisasikan atas nama dakwah, hal ini akan menyebabkan pada beberapa kerugian lainnya, yaitu : visi perjuangan menjadi hilang, visi pengorbanan telah tiada, yang ada tinggal sisa –sisa kejayaan masa lalu dan sejumlah agenda problem intern dan kesenjangan hubungan antara individu.
E. DUKUNGAN SOLIDITAS STRUKTUR
Gerakan dakwah yang solid akan memberikan dukungan sangat besar bagi setiap aktivis untuk memiliki daya tahan di dalam perjuangan, namun sebaliknya jika kondisi struktur tidak solid, akan memberikan dampak negative bagi daya tahan para aktivis.

1. Upaya membentuk soliditas struktur
a. Konsolidasi manejerial
Kondisi manajerial dilakukan dengan penataan manjemen yang bagus dan professional dalam jalur dan lini, diantaranya fungsi manajemen yang penting bagai gerakan dakwah adalah perencanaan yang matang dan berjangka panjang, membuat program kerja berdasarkan perencananan strategis, pemetaan dan pendayagunaaan SDM.
b. Konsolidasi operasional
Konsolidasi opersional dimaksudkan untuk menyinkronkan berbagai kegaiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan, dengan konsolidasi operasional ini diharapkan tak ada tumpang tindih dalam melaksanakan kegiatan.
2. Hal – hal yang merusak soliditas
a. Munculnya sekat komunikasi
b. Lemahnya mana’ah tanzhimiyyah (imunitas structural)
Contohnya peraturan dan mekanisme organisasi sudah tidak ditaati oleh para anggota gerakan, perlahan tapi pasti, soliditas melemah, yang ujung hanya adalah kerusakan sistemik pergerakan dakwah.

F. SEKALI LAGI, HARUS SELLAU MEMPERBAIKI PERSIAPAN
1. Persiapan total untuk meraih kemenangan
2. SDM sebagai investasi utama
3. Berhitung kekuatan

BAB 4: YANG TEGAR DI JALAN DAKWAH
Ketika syakhshiyah telah terbentuk , dan persiapan telah dilakukan sebaik mungkin menurut perhitungan manusiawi maka segala mihnah akan bisa ditanggung secara ikhlas tanpa beban, lihatlah para mu’assis dakwah Islam, mereka senatiasa tegar menghadapi berbagai cobaan yang menimpa, baik bersifat individu maupun sistemik, kematian adalah resiko yang menyenangkan, sebab pahalanya telah pasti bagi setiap perjuang kebenaran, apabila resiko tertinggi ini telah diperhitungkan, sementara segala perangkat tekhnis gerak telah dirancang rapi, rasa- rasanya tidak satupun menempuh perjalanan panjang di medan dakwah.
Sebagai seorang aktivis, harus dapat Tegar dalam menghadapi ejekan, tegar dalam menghadapi gelombang fitnah, tegar dalam menghadapi terror fisik, tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, tegar dalam kekurangan, tegar dalam kemapanan, dan tegar di puncak kekuasaan.
Menjadi aktivis yang tegar dijalan dakwah yaitu kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah SAW dan keyakinan akan janji – janji Nya, semua menjadi titik penentu dalam gerak perjuangan kita menerjang berbagai macam badai yang menghantam.

Ikhwatifillah saatnya mempertanyakan pada diri. Tegarkah kita di jalan dakwah? Jika ya, jangan ragui itu. Mari berbenah, lalu melangkah pasti di medan dakwah yang penuh tantangan global ini. Raih masa depan yang gilang-gemilang. Rajut peradaban yang berkilau cemerlang.

Innamal mu’minuunal ladziina aamanuu billaahi warasuulihi tsumma lam yartaabuu…
(sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasulnya, kemudian mereka tidak ragu-ragu…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar