Minggu, 17 April 2016

Aku Kamu Kita dan Hujan

Berteduh
Sudah lama tidak berteduh dikala hujan.
Seperti zaman yang terus berubah.
Hati dan teman yang membersamai pun silih berganti.
Sesuai skenario Sang Illahi.


Teringat saat berjuang dikala mengais maisyah tahun 2011 lalu.
Sepulang bekerja, janjian dengan teman untuk melepas penat setelah bekerja.
Indah dirasa, karena perjumpaan dinanti pun akhirnya tiba.
Pun saat akhirnya kita bertemu di halte janjian, ternyata hujan lebat hadir bersamaan dengan pertemuan indah aku dengannya.
Tak terasa, pengalaman pertama, satu jam terjebak hujan dihalte bersama dengannya.
Indah. Mengenang segala perjuangan dan langkah hidup aku dan dia.
Dia dengan kisahnya dan aku pun dengan kisahku.
Kisah kita menyatu bersamaan dengan hujan yang mewarnai perjumpaan kita kala itu.

Hingga akhirnmya, hujan pun reda. Kami bergegas ke lokasi selanjutnya, yaitu tempat pengisian perut yang sudah semakin keroncongan. Namun, luapan air tak kuasa kami hadang. Kami menerjang banjir hingga kendaraan kami mogok.
Bayangkan suasana indah saat itu, pulang kerja, lelah, kehujanan, perut keroncongan, banjir menghadang, pun motor yang mogok.
Lengkap sudah perjalanan kita dalam pertemuan kala itu.

Maha Besar Allah, ada dua anak laki-laki yang menolong kami.
Yang ternyata, anak laki-laki itu adalah pelajar salah satu Sekolah Menengah Atas yang familiar denganku. Dan setelah kami berbincang, ternyata dia teman sekelas sepupuku.
*MasyaAllah......

Suasana indah penuh kejutan akan segenap keceriaan hati kerap mewarnai keadaan yang semakin indah itu.
Hingga tak terasa, hari semakin gelap dan adzan magrib berkumandang.

Setelah motor diperbaiki kami pun jalan kembali dan melipir ke mesjid terdekat.
Dan melanjutkan perjalanan kami...

Indah, penuh kejutan, dan selalu terkenang....

***
Selebihnya pengalaman indah saat berjuang dikala hujan, selalu hadir saat aku sendiri diatas kendaraan tanpa menepi. Terjang dan terus menerjang hingga hujan kian mereda.

Dan,
Baru kemarin, hujan hadir saat aku sedang berdua dengan teman seperjuangan satu lingkaran.

Tak terbayangkan cuaca yang Ia hadirkan.
Seperti susasana hati yang kian berubah begitu cepat.

Terik panas melanda pertemuan kita.
Seketika panas itu berubah menjadi awan yang menggelap dan... HUJAN.
Kami pun melipir, menepi, dan berteduh.
Hingga akhirnya warna-warni kisah kita mewarnai perbincangan ditengah derasnya hujan.
Saat jenuh melanda, senjata ampuh kita keluarkan bersama.

Yups, tilawah dan muroja'ah menjadi senjata andalan.
Seketika hati berbunga dan hujan pun kian reda.
Lalu kami melanjutkan perjalanan....


Selalu ada makna dikala hujan
Selalu ada kisah indah yang menakjubkan dikala hujan
Selalu ada kenangan dikala hujan
Pun pelangi yang hadir setelah hujan akan selalu dinanti....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar