“Tua itu pasti, namun
dewasa adalah pilihan”.
Yups, karena tidak semua orang
yang sudah ‘berumur’ itu bisa dewasa. Tidak sedikit yang sudah tua tapi
kekanak-kanakan. Tidak berpikir realistis, tidak mandiri, manja kebangetan,
suka ngambek atau marah hanya karena hal sepele, bertingkah semaunya, bahkan
tidak bisa menghargai orang lain. *Naudzubillah. Semoga kita dilindungi dari
sifat kekanak-kanakan yang berlebihan.
Boleh saja kita kekanak-kanakan,
namun secara wajar. Alias bisa dicontoh jujur dan polosnya, tidak bertingkah
diluar batas, nakal sedikit tapi masih bisa diatur, yah pokoknya saat masih
dalam batas wajar, maka tidak masalah.
Berbicara dewasa, bagaimana
menilai kedewasaan?
Dewasa itu dinilai dari sejauh
mana kita bisa biijaksana dalam mengambil setiap keputusan dalam segala aspek kehidupan
kita. Dewasa dinilai dari sejauh mana kita bisa bersikap saat masalah
menghampiri diri kita. Dewasa juga
dinilai dari bagaimana kita berpikir dengan terus berdzikir agar solusi dapat
hadir. Dan yang pasti, dewasa itu terlihat dari ketenangan sosok orang yang hatinya selalu terpaut pada Sang Maha Penguasa
Segalanya. Yang padaNya semua masalah terselesaikan dengan cara terbaik dan
paling tepat.
Lalu bagaimana dengan diri kita? Sudah
dewasa-kah kepribadian kita?
Siapakah yang bisa menilai semua
itu? Tentunya diri kita sendiri. Dengan cara selalu bermuhasabah setiap hari. Rasulullah
saja yang sudah dijamin masuk surga rajin bermuhasabah, masa kita tidak? Padahal
tidak ada yang menjamin kita pasti masuk surga, iya bukan?
Yuk, belajar dewasa dalam
bersikap!
Tegur aku jika ada khilaf... ~
#SalamMuhasabah :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar